News

Rabu, 28 November 2018

Arti dari Ibadah


Sebagai sistem kepercayaan, agama tidak pernah lepas dari ritual. Bentuk-bentuk ibadah, laku-laku meditatif, perenungan suci merupakan hal yang lumrah bahkan wajib dalam agama sehingga tindakan-tindakan ini seringkali secara tertulis ada dalam kitab suci dan diperintahkan secara tersirat juga di dalamnya. Kenyataan ini menjadikan ritual memberikan pengaruh yang cukup besar dalam agama sehingga seringkali penilaian atas agama tidak semata-mata didasarkan pada doktrinya tapi juga bagaimana ritual ini dijalankan oleh para penganut agama.
Posisi ritual dalam agama cukup penting karena lewat ritual agama dapat mewujud dalam kehidupan nyata. Segala doktrin dan aturan agama tidak pernah akan sampai ke bumi tanpa ritual sehingga jika agama hanya mengandalkan doktrin dan dogmanya semata maka agama akan jadi sistem kepercayaan yang bisu karena tidak punya wujud yang konkrit di kehidupan nyata. Oleh karena itu dinamika agama dalam perspektif ritual adalah dinamika yang paling mudah dirasakan dan seringkali bergesekan dengan pemikiran manusia sehari-hari sehingga tidak jarang ritual menjadi pusat perhatian dalam agama.
Keberadaan ritual bukan hanya penting dalam menjaga eksistensi agama itu sendiri karena dalam perspektif hubungan manusia dengan agama ritual menjadikan fungsi agama menjadi nyata—sebagai jalan menuju Tuhan. Lewat ritual, manusia dapat menjangkau realitas Tuhan yang immaterial dimana ritual akan membantu manusia untuk turun jauh ke dalam dirinya sehingga perasaan dan emosinya dapat menjadi lebih peka. Ritual yang benar akan menjadikan jiwa dan emosi manusia lebih terasah karena prinsip dari ritual yang meditatif; ritual akan membatasi kerja manusia dan menahan dirinya dari usaha pemenuhan hasrat diri sehingga fokus manusia akan teralih dari kenyataan eksternal menuju pada kedalalam jiwa yang reflektif. Hasil pertama dari ritual yang benar adalah kepekaan hati dalam merasakan kenyataan yang ada di luar diri dan hasil utamanya adalah diri dapat merasakan realitas Tuhan dalam diri, lingkungan, dan apapun.
Fungsi dan sifat ritual ini menjadikan agama senantiasa mendorong manusia untuk melakukan ritual dan cara paling mudah adalah lewat skema surga dan neraka. Skema ini secara kasat mata terlihat pamrih dimana ibadah yang harusnya didasari niatan tulus ternyata harus didasari pada harapan akan imbalan dan ketakutan pada ancaman. Hal ini benar adanya jika surga dan neraka dilihat sebagai objek material terukur yang punya takaran jelas karena pada kenyataanya keduanya adalah objek yang immaterial sehingga eksistensi mereka tidak jelas—dengan kata lain usaha untuk memastikan keberadaanya lewat keterjangkuannya adalah usaha mustahil.
Kondisi surga dan neraka yang tidak dapat diukur menjadikan manusia tidak bisa memastikan apa dia telah mencapai keduanya selama manusia masih hidup. Keadaan ini akan mendorong manusia untuk secara terus menerus memperbaiki ibadahnya dan satu-satunya cara untuk memperbaiki ibadah adalah dengan cara menggali lebih dalam ke dalam jiwa sehingga lagi-lagi jiwa lebih terasah lagi dan kepekaan dapat terus ditingkatkan—dan usaha mencari dan berinteraksi dengan Tuhan akan terus berlanjut.
Dengan demikian sebenarnya aspek utama dari skema ritual yang mengharapkan surga neraka bukan suatu kegiatan yang beriorientasi hasil semata tapi benar-benar merupakan suatu kegiatan yang punya titik berat pada proses. Ketika hasil ternyata tidak bisa diukur sama sekali maka tidak ada usaha lain untuk meningkatkan kualitas kerja selain memperbaiki laku dari kerja. Karena laku dari ritual berusaha untuk mencapai jiwa dan emosi yang immaterial dan tidak terukur dengan kualitas fisik maka kualitas dari ritual tidak bisa begitu saja ditautkan dengan ukuran-ukuran yang jelas.
Mengaitkan laku ritual dengan ukuran yang jelas memang mudah dan praktis karena laku ritual jadi lebih mudah dilaksanakan, namun usaha ini justru berpotensi mematikan inti dari ritual karena tujuan dari ritual dapat bergeser dari usaha untuk mencapai jiwa sebagai sarana berinteraksi dengan Tuhan menjadi usaha untuk memenuhi ukuran-ukuran fisik ini. Ukuran-ukuran fisik ini kemudian akan coba dikaitkan dengan surga dan neraka sehingga ketika ritual telah mencapai ukuran fisik ini maka manusia akan berhenti dan merasa bahwa ritualnya telah mencapai surga dan neraka—bahkan manusia dapat mencapai suatu bentuk arogansi sehingga ritual tidak membuat manusia jadi peka perasaanya namun malah jadi tumpul perasaanya karena tertutup arogansi yang lahir dari ego berbasis pencapaian fisik.
Ritual yang berusaha mencapai jiwa yang dalam dan sunyi punya sifat personal. Sifat ini dapat dirusak oleh pertautan fisik ini karena menjadikan ritual dapat diukur oleh orang lain. Keterukuran ini menjadikan diri rentan diintervensi diri yang lain sehingga ritual yang dilakukan diri tidak berusaha mencapai jiwa yang dimiliki namun malah dikendalikan oleh pandangan diri lain. Lebih jauh ritual akan menjadi salah satu instrumen dalam masyarakat untuk mengukur moral sehingga esensi dari moral makin jauh dari usaha mencapai kedalam jiwa menjadi usaha pencitraan di tengah masyarakat. Ketika ritual telah menjadi usaha membangun citra diri maka ritual lambat laun memiliki sifat lain yakni pengakuan—keberhasilan ritual diukur oleh pandangan masyarakat bukan pencapaian diri atas jiwa.
Kenyataan ini tidak lantas membuat ritual tidak boleh punya aturan umum (yang mana kontradiktif dengan kenyataan bahwa ritual secara tersurat ada pada kitab suci)  karena justru aturan umum dapat memperkuat ritual juga. Ritual yang personal rawan menghisap manusia keluar dari realitas dunia sehingga aturan umum menjadikan ritual tetap punya dimensi interpersonal. Aturan umum dalam ritual akan menjadikan ritual suatu bentuk kegiatan yang dilakukan banyak orang sehingga dapat menciptakan rasa kesamaan yang berujung pada persatuan. Ketika rasa ini bertemu dengan kepekaan hati yang terasah lewat ritual yang personal maka manusia akan memilki jiwa yang peka pada fenomena sosial karena jiwa yang telah terasah senantiasa bersentuhan dengan jiwa lain. Kondisi ini menjadikan manusia ada diantara alam metafisik yang imaterial (sebagai akibat dari laku ritual yang personal) dan alam fisik yang material (sebagai akibat dari persinggungan dengan manusia).
Aturan umum juga menjamin unsur dari ritual—tata cara ritual—terjaga karena dengan aturan umum maka ritual akan mudah dikoreksi dari penyimpangan dan mudah diwariskan. Koreksi disini tidak bermaksud menilai tapi bersifat meluruskan ritual, sehingga tujuan utama dari ritual tetap dapat tercapai sehingga ritual dapat menciptakan koneksi antar generasi yang mendalam. Keterhubungan yang muncul juga unik karena memiliki nilai historis dalam bingkai laku-laku yang dapat melintasi waktu.
Sampai disini bisa dilihat bahwa ritual memiliki peran penting bagi manusia secara khusus dan agama secara umum. Ritual adalah bentuk interaksi nyata manusia dengan Tuhan karena lewat ritual manusia dapat merasakan realitas Tuhan yang mana pada akhirnya menghidupkan agama juga. Kepercayaan pada Tuhan seharusnya tidak melemah saat ritual semakin baik. Apabila ternyata ritual malah menjauhkan manusia dari Tuhan maka perlu ditelaah ulang apa ritual telah dilakukan dengan baik atau belum.
Usaha untuk terus menyegarkan laku ritual merupakan usaha yang sangat penting karena agama lewat ritual dapat mewujud di dunia serta dikenal oleh setiap orang. Harus diakui bahwa perjumpaan manusia dengan suatu agama umumnya adalah lewat ritualnya bukan doktrin atau inti ajaran agama lain sehingga tidak jarang persepsi akan agama ditentukan oleh kesan yang ditimbulkan oleh ritual. Lebih jauh, praktik ritual dapat menjadikan agama menjadi suatu sistem kepercayaan yang dinamis dan adaptif yang selalu aktual bagi manusia. Tuntutan untuk menjalankan ritual tidak serta merta memenjara manusia dalam jeruji ketaatan buta namun dapat memicu inovasi yang memerlukan usaha akal karena ritual hadir di alam nyata yang mana hanya mampu dimanipulasi oleh akal. Selain itu, ritual dapat menumbuhkan empati lewat aturan umumnya sehingga ritual seharusnya dapat menumbuhkan kepekaan humanis sehingga wajah agama dapat hadir di antara manusia sebagai kepercayaan yang dapat membimbing dan mengayomi bukannya meneror dan mengintimidasi saja.
Pada akhirnya, ritual dapat menggerakkan manusia dalam suasana ilahiah di dunia yang fana ini.
Tulisan ini juga dimuat di blog penulis

1 komentar:

Berkomentarlah sebijak mungkin.
Komentar tidak pantas akan di hapus oleh admin.