News

Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2020

April 11, 2020

HIKMAH MENDENGARKAN NASEHAT

Pernah suatu malam saya mendengarkan nasehat dari dewan guru saya di pondok. Dalam setiap nasehat yang beliau sampaikan banyak bagian dimana saya merasa tertampar sebagai makhluk kecil yang sudah diciptakan oleh Allah SWT. Saya merasa selama saya hidup, saya banyak mengumpulkan dosa dari pada berbuat amalan yang dapat mendatangkan pahala. Jelas secara pribadi saya merasa tersindir. Seperti yang saya katakan, saya merasa tertampar dengan isi nasehat yang beliau sampaikan. Tidak ada tamparan yang tidak meninggalkan luka dan lara. Begitu juga hati saya, sedikit tercubit karena kata-katanya dirasa sangat tepat sasaran pada saya.


Setelah saya mendengarkan nasehat beliau, saya tidak bisa untuk tidak berpikir dan merenung. Saya merenung sepanjang malam, banyak pro dan kontra yang terjadi dalam hati dan pikiran saya. Banyak penyangkalan yang saya lakukan terhadap diri saya padahal sudah jelas saya berada di posisi yang salah. Dewan guru yang menyampaikan nasehat dan saya yang banyak tersindir oleh isi nasehatnya. Topik yang simple, tapi bisa membuat saya tidak bisa tidur sepanjang malam. Hingga saya sampai pada sebuat pemikiran Dewan guru yang menyampaikan nasehat tidaklah pantas dan tidak patut untuk saya benci karena saya merasa tersindir. Apa yang beliau sampaikan adalah untuk semua santri di pondok, bukan semata-mata untuk saya. Kebetulan saja saya banyak tersindir karena memang saya seperti itu.


Dan setelah saya mengamati beberapa teman saya, ada yang seperti saya ada juga yang baik-baik saja. Mereka baik-baik saja tidak merasa tersindir dan membuat berbagai penyangkalan seperti yang sempat saya lakukan. Nasehat tersebut memang ditujukan untuk semua santri karena memang isi nasehatnya baik dan benar, juga sebagai pengingat apabila salah agar segera bertaubat.


Penyangkalan yang banyak dibuat sebagai hasil dari sakit hati karena tersindir isi nasehat dari dewan guru, banyak mendatangkan alasan bahwa dosa-dosa yang banyak dikerjakan adalah akibat dari permasalahan yang menimpa kehidupan.
Dengan adanya masalah yang datang menjadikan perbuatan salah sebagai pelampiasan.
Ironi sekali.
Padahal, saya pernah membaca tulisan teman saya dalam blog pondok saya.
Bahwa masalah yang datang di kehidupan adalah jalan bagi kita agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas, juga Allah menghadirkan masalah pada hidup kita sebagai sarana pengangkatan derajat kita nanti di akhirat. Bukankah sebuah kasih sayang dari Allah yang tidak kita sadari kan?
Jika kita lari dari masalah, maka kita lari dari kasih sayang Allah.


Kita diberikan cobaan masalah dalam hidup harusnya menjadikan kita semakin mendekat pada Allah, semakin memperbanyak amalan yang mendatangkan pahala, dan semakin rajin meminta pertolongan-Nya.
Bukan dengan terus menjalankan perbuatan-perbuatan dosa dengan alibi sebagai pelarian karena didatangkan masalah dalam hidup kita.
Semua penyangkalan yang pernah saya lakukan pada diri saya sendiri, jika saya cermati lagi sangatlah tidak logis dan tidak realistis. Penyangkalan yang tidak beralasan dan tidak pantas untuk dibenarkan.
Betapa bodohnya saya selama ini pernah berpikir seperti itu.


Setelah semua renungan panjang saya, saya kembali pada keadaan dimana seharusnya saya bersyukur berada disini (re: pondok).
Banyak manusia-manusia dengan kehidupan super sibuk dan berbagai macam masalah yang berbeda tetapi masih peduli dengan sesama, masih mau mengingatkan jika kita sudah tidak dijalur-Nya, memberi nasehat yang bahkan terkadang tidak kita minta. Semata-mata semua itu hanya untuk menyelamatkan kita nanti di kehidupan selanjutnya, agar kita bisa masuk surga dan selamat dari neraka.
Kita memang pendosa, bahkan kita yang pendosa Allah masih mau memberikan pintu maaf untuk kita, masih bisa memberikan kesempatan kita untuk bertobat dan kembali lagi ke jalan-Nya.

Saya pernah diberikan gambaran.
Seperti halnya kita punya luka dikaki yang masih belum kering, lalu kita bermain air di pantai dan seketika itu juga kita merasakan sakit dan perih, tapi hanya pada bagian luka saja, sedangkan tubuh lain yang tidak terluka tidak sakit dan perih bila terkena air laut.

Atau saat kita memberi obat merah pada luka, bagian luka pasti merasakan sakit, adapun bagian tubuh lain disekitar luka tentu juga sedikit terkena obat merah, tapi apakah mereka (re : bagian tubuh disekitar luka) juga merasakan sakit, tidak bukan?
Tapi apa yang terjadi setelah itu?
Luka kita sedikit demi sedikit bisa sembuh.
Tapi jika kita masih bermain dan kemudian terjatuh hingga kita terluka lagi maka kita akan sakit lagi.
Lalu apa yang harusnya kita lakukan setelah luka itu sembuh? Ya berhenti untuk bermain dan terjatuh. Dalam case ini adalah berhenti untuk berbuat pelanggaran yang akan mendatangkan dosa.

Begitu juga dengan nasehat, meskipun menyakitkan hati, terasa pahit, tapi harusnya membuat kita sadar dan kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita perbuat.
Seharusnya juga kita bisa sadar bahwa apa yang selama ini kita lakukan adalah sebuah kesalahan dan sudah waktunya untuk berhenti dan tidak mengerjakan lagi.

Kita belum terlambat jadi sudahi semua dosa-dosa, mari bersama memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan menjadi manusia dengan sifat-sifat penghuni surga.

Tetap semangat mencari ilmu kawan, jangan pernah untuk merasa cukup dan benar.
Mari bersama untuk belajar dan mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah kita dapatkan, agar ilmu yang kita punya bisa menjadi ilmu hikmah.



Jumat, 07 Februari 2020

Februari 07, 2020

Bersyukur, Paradigma Keyakinan Menurut Para Ahli

Bersyukur, Paradigma Keyakinan Menurut Para Ahli
in frame, Ust.Azimata
Syukur merupakan paradigma yang menurut para ahli adalah pola pikir, konsep dasar atau sebuah keyakinan. Bersyukur menjadi salah satu hal yang wajib bagi umat islam. Allah berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152)

Setiap orang memiliki paradigma yang berbeda-beda tentang bersyukur. Sebagian orang bersyukur karena dapat meraih kesuksesan tertentu, sebagian lagi sangat bersyukur jika dalam satu hari saja dapat makan atau mandi dengan air yang bersih tanpa harus bersusah payah mendapatkannya, dan banyak orang juga menganggap bernapas tanpa menggunakan alat bantu dan menghirup udara yang segar mengandung bagian dari nikmat yang harus disyukuri.

Bersyukur merupakan salah satu tali keimanan. Maksudnya dengan bersyukur membuat seorang mukmin tidak mudah terjerumus dalam perbuatan maksiat, karena bersyukur membuat seseorang menjadi lebih sabar. Dilansir dalam majalah Time, penelitian dari Northeast University menemukan bahwa orang mensyukuri hal-hal remeh setiap harinya menjadikan seseorang lebih sabar dan mampu membuat keputusan yang rasional, dibandingkan yang tidak bersyukur.

Dari sisi kesehatan, bersyukur juga membuat orang dapat menghargai dirinya sendiri. Para peneliti menemukan hubungan tingkatan dalam bersyukur terhadap kesehatan secara fisik dan psikologis, serta kebiasaan yang berdampak bagi kesehatan seperti olahraga dan menjalankan gaya hidup sehat dan rutinitas cek kesehatan, menunjukkan adanya pengaruh positif. Hal tersebut menunjukkan bersyukur dapat membuat orang lebih menghargai dirinya sendiri, berdasarkan pernyataan jurnal yang dirilis Personality and Individual Differences.

Kurangnya rasa syukur pada akhirnya memicu depresi dan ketidak bahagiaan individu, karena seseorang selalu merasa dirinya gagal mencapai hal yang lebih dibandingkan orang lain. Di zaman ini, sosial media seperti dua mata pisau. Selain memberikan pengaruh positif, social media juga memberikan pengaruh negatif bagi orang yang belum bijak dalam menggunakannya.

Beberapa orang terobsesi membandingkan kehidupan dirinya dengan kehidupan orang lain karena sosial media. Padahal apa yang diperlihatkan seseorang di sosial media terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Bahkan, tanpa dia sadari banyak orang lain tidak memiliki kehidupan yang sekarang dia jalani.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman:
“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa yang kufur (tidak bersukur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. Luqman : 12).

Sebuah riset menunjukkan adanya penurunan gejala depresi pada orang yang bersyukur. Dalam jurnal yang berjudul ‘Strength-Based Positive Interventions: Further Evidence for Their Potential in Enhancing Well-Being and Alleviating Depression’ menjelaskan pengaruh intervensi positif dan penurunan gejala depresi. Menurut Gander et al (2012) kebahagiaan dan gejala depresi dapat diubah ke arah yang diinginkan melalui berbagai intervensi positif.

Eksperimen dilakukan dengan cara peserta diminta untuk menuliskan tiga hal yang berjalan baik dan menyenangkan bagi mereka dan menjelaskan mengapa hal-hal itu terjadi dalam sehari selama seminggu. Hasilnya menunjukkan orang yang bersyukur berhasil meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan gejala depresi mereka dari waktu ke waktu.

Selain itu, bersyukur dapat meningkatkan peluang kesuksesan individu. Dilansir dari CNBC.com, penelitian ilmiah dari psikolog terkemuka menunjukkan bahwa orang yang bersyukur lebih cenderung bahagia dan sukses. Hal tersebut dikarenakan kebahagiaan memainkan peran penting dalam karir dan bisnis. Orang yang positif cenderung akan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik dan mendapat evaluasi yang menguntungkan, dibandingkan yang tidak. Pernyataan tersebut juga didukung dalam sebuah jurnal Psikologi bertajuk 'Does Savoring Increase Happiness? A Daily Diary Study'.

Allah sejatinya telah memberikan kita banyak kenikmatan. Mulai dari nikmat sehat yang selalu kita sepelekan, kewarasan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan bagaimana jika Allah menakdirkan kita hilang akal dan juga tanpa kita sadari menyia-nyiakan waktu senggang untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Masih banyak lagi kenikmatan yang telah Allah berikan.

Bagian terpentingnya bahwa Allah tidak memerintahkan hambanya untuk menghitung semua kenikmatan tersebut, melainkan cukup untuk disyukuri. Allah berfirman:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Dan pada akhirnya rasa syukur-lah yang menolong kita dari kemalangan dunia dan akhirat,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami (Allah) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Kamis, 30 Mei 2019

Mei 30, 2019

Lebih dari Sekedar AI



Temen-temen tau kan AI atau kepanjangan dari Artificial Intelligence atau biasa disebut kecerdasan buatan itu apa dan bagaimana pengaruhnya di zaman sekarang?. Mudahnya, bayangkan robot dan dampaknya buat masa kini.  Robot dibuat dengan sistem kecerdasan yang ditanamkan di dalamnya. Udah kebayang kan? Nggak cuma mesin fisik seperti robot, AI juga bisa diciptakan di dalam mesin seperti software. Secanggih itu AI.

Ada contoh lain tentang AI nih. Pernah nggak sih, kita pengen beli sesuatu eh tiba-tiba ada iklan dari e-commerce yang nampilin iklan yang related sama yg kita pengen. Yap, ternyata itu bukan sulap bukan sihir. Di zaman yg teknologi makin canggih ini, para saintis sudah menerapkan kecerdasan buatan yang dikembangkan mampu memberi rekomendasi pencarian meskipun barang yg kita ingin masih ada dibenak kita. Contohnya, AI (Artificial Intelligent) yang ada pada e-commerce Bukalapak, yg mana mampu memberikan rekomendasi produk-produk terkait kepada tiap pengguna.
Tapi kita nggak akan bahas tentang teknologinya. Di case yg sama, pernah nggak sih saat kita lagi dirundung masalah tanpa diminta tiba-tiba kita dapet quotes buat nyemangatin kita balik yg sangat berelasi dengan masalah yg sedang kita hadapi. Atau, sebenernya itu quotes biasa aja tapi kita tiba-tiba bisa menggali maknanya lebih dalam merelasikannya dengan ayat Alquran untuk melegakan masalah yg kita punya. Atau tiba-tiba ada teman yang tidak diminta datang untuk menjadi teman yg menasihati~ seperti semuanya seakan-akan ada yang bisa membaca isi hati kita.
Thinkkkkkkk! Pernah kayak gitu? Adakah AI sekitar saya? Mana mungkin~ padahal kita nggak pernah cerita ke siapapun. Tapi mungkin kita lupa bahwa kita punya Allah yg Maha Melihat, Maha Waspada. Hal yang semuanya tiba-tiba datang sebelum diminta itupun bukan sulap dan bukan sihir. Allah bisa memberi ilmu pada makhluknya, dengan cara apa saja. Dan itulah kekuasaannya Allah yang lebih canggih dari sekedar AI.

Jadi masih mau ngeremehin pertolongan Allah?

//sambil ngaca dan ngomong ke diri sendiri :’)

Dan kita sebagai makhluknya Allah harusnya bisa ambil pelajaran dan mau berusaha berpikir. Iya kan, “La’allakum Tadzakkaruun~” (noble qur’an).

Senin, 25 Februari 2019

Februari 25, 2019

KENAPA KAMU GAK PEKA?



Assalamualaikum gengsss,, gimana ekspektasi kamu ketika membaca judulnya? Apakah kamu mengira kita akan membahas cinta-cintaan? hihihi. Oooo tentu tidak, logikamu saja yang telah ter-racun-i bahwa kata "peka" itu selalu merujuk pada permasalahan cinta. ( Loh, iya kah? ). 


Oke langsung saja yaa... Kenapa saya menulis ini? Karena saya sudah geram dan tidak kuat untuk menyimpan unek-unek saya sendiri hehehe. Jadi disini saya akan curhat dan ayok diskusikan bagaimana caranya apa yang saya curhatkan itu bisa teratasi. Mau kan? Mau kan? hehehe.


Yap, PEKA masalah KEBERSIHAN.


Sepertinya kalau membahas perihal ini tidak akan ada habisnya ya? hehehe. Tapi kalau dimulai sedikit demi sedikit kan lama-lama bisa jadi bukit ( Apaan sih! ). Yang pengen saya singgung disini adalah hal-hal kecil sepele yang sering diacuhkan oleh pemirsa-pemirsa yang rupawan ini, hehehe. ( kok hehhehe mulu sih, serius dong!).

Kenapa sepele? Apa itu? Yap kita akan kupas secara menyeluruh. Siap-siap yaaa..!!


Sepele karena itu benar-benar enteng untuk dilakukan dengan tangan sendiri dan membutuhkan waktu hanya 1-5 menit lah. Nggak ada satu jam seperti hmm hmm hmm nya Nisa Sabyan ya kan?. Tapi kenapa kok nggak mau melakukan gitu loh? hehehe.


Apa saja? Yang pertama, kebersihan dapur. Contoh nih, setelah merebus micin (sebutan untuk mie instan biar hitzz) bungkusnya dibiarin gitu aja. Bungkus bumbu-bumbu nan lezat bergizi (bagi fans setia micin) itu juga dibiarin gitu aja. Kan kasian ya, habis manis sepah TIDAK dibuang. kan harusnya habis masak bungkus dibuang hehehe. 


Lagi, sampah yang tidak dibuang pada tempat semestinya. Dibuang sih tapi tidak pada keranjang sampah atau plastik sampahnya. Iya, malah ke sekitarnya, berceceran gitu tuh, kesannya malah jadi kumuh gitu nggak sih?. Wah wah wah, merasa punya dayang-dayang yang bersedia menjadi pembersih sampahnya kali ya. Hahahhahaha lucu sekali. Boleh saja sih kamu berlaku demikian di rumah kamu, mungkin orang tua kamu Alhamdulillah berkecukupan sehingga bisa menyewa jasa rewang di rumah. Apa-apa beliau yang ngerjain dari mulai masak, nyuci baju, nyapu rumah (nyapu kamar kamu juga mungkin ya?). Kalau seperti itu mah silahkan-silahkan saja, toh gaada yang dirugikan. Tapi kan kita ber-banyak orang ya, jadi harus tau diri, kita yang pakai ya kita yang harus membersihkan. Sampai disini paham?


Kalau saya sih mikirnya gini, iya kalau besok saat berumah tangga suami saya berpenghasilan cukup untuk menyewa jasa rewang.  Kalau enggak? Masa iya suami yang harus nyuci piring saya? Masa iya suami yang harus beberes rumah? Enggak banget ya kan?. Trus kalau saya sendiri gak bisa jaga kebersihan, nanti dicontoh sama anak-anak saya kan jadi repot juga. Rumah jadinya seperti kapal pecah. Yakin bakal betah?


"Aku mau jadi wanita karir kok, mau kerja di luar rumah, ngapain harus ber-beres rumah? kan aku kerja!" Begini ladies yang rupawan. Boleh-boleh saja kamu menjadi wanita karir. Tapi memang sudah sepantasnya bukan kita sebagai manusia bisa menjaga kebersihan dan bertanggung jawab pada diri sendiri?. Apalagi wanita ya kan, aku tanya deh sama kaum adam, suka sama wanita yang resikan atau kemproh?. Saya yakin mayoritas dari mereka akan menjawab suka yang resikan (bisa ber-beres rumah dan sebagainya itu).


Ada lagi nih, masalah sandal, heheheh. 
yang ingin saya soroti disini adalah masalah menempatkan sandal pada tempatnya. Yap, di rak sandal yang sudah disediakan. Tapi ya gitu, masih ada saja yang dengan santainya ogah-ogahan untuk menaruhnya di rak setelah masuk ke gedung. Dibiarkan geletak-an begitu saja di lantai. Nggak bagus banget ya kan?


Saya nulis ini bukan berarti saya makhluk berjenis clean freak yang sama debu pun alergi, bukan. saya hanya makhluk biasa yang risih kalau apa-apa tidak ditempatkan pada tempatnya. Ayok kita mulai gerakan risih bersama-sama. Untuk masa depan yang lebih baik!!! :D


Sekian dari saya untuk saat ini, bila ingin berpendapat silahkan. Sudah disediakan teknologi yang namanya kolom komentar hehehe. Semangat berbenah!! FIGHTING!!



Jumat, 15 Februari 2019

Februari 15, 2019

Si Belang, Si Botak, dan Si Buta



Ada tiga orang dari Bani Isra'il yang menderita sakit. 
1. menderita penyakit kusta (si belang)
2. berkepala gundul (si botak)
3. dan tidak bisa melihat (si buta)
Allah Ta'ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi si belang lalu bertanya kepadanya : "Apa yang paling kamu sukai?"
"Warna kulit dan kulitku yang bagus karena sekarang ini orang-orang menjauhiku," jawab si belang.
 Lalu malaikat itu mengusap kulitnya hingga penyakitnya hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus. Lalu malaikat bertanya lagi :
 
"Harta apa yang paling kamu sukai?" 
"Unta," jawabnya.
Maka dia diberi puluhan unta.
"Mudah-mudahan pada unta-unta itu ada barokah buatmu," kata Malaikat.
 
Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya : "Apa yang paling kamu sukai ?"
"Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku karena sekarang ini orang-orang menjauhiku," jawab si botak.
Maka malaikat itu mengusap kepalanya dan lalu tumbuh rambut yang bagus. Lalu 
malaikat bertanya lagi :
"Harta apa yang paling kamu sukai?". 
"Sapi," jawabnya.
Maka dia diberi seekor sapi yang sedang hamil lalu malaikat berkata :
"Semoga pada sapi itu ada kebarokahan buatmu."
Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta.
"Apa yang paling kamu sukai ?" tanya Malaikat kepada si Buta.
Si Buta menjawab : "Seandainya Allah Ta'ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia".
Maka malaikat itu mengusap matanya hingga Allah Ta'ala mengembalikan penglihatannya". Lalu malaikat bertanya lagi :
"Harta apa yang paling kamu sukai?" 
"Kambing," jawabnya.
Maka iapun diberi seekor kambing yang sedang hamil.
Maka dua orang yang dulunya belang dan botak hewan-hewannya berkembang biak dengan banyak begitu juga dengan orang yang dulunya buta, masing-masing mereka memiliki lembah untuk mengembalakan unta-unta, sapi-sapi dan kambing-kambing mereka. Lalu malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata :
 
"Saya ini orang miskin bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang mengizinkan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta'ala. Maka aku mohon kepadamu demi Dzat yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus dan juga memberimu unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini ?”. 
Maka orang ini berkata : "Sesungguhnya masih sangat banyak hak-hak yang harus aku tunaikan".
Lalu Malaikat bertanya kepadanya : "Sepertinya aku mengenalmu, bukankah kamu dulu orang yang berpenyakit kusta dan orang-orang menjauhimu dan waktu itu kamu juga dalam keadaan faqir lalu Allah Ta'ala memberimu harta ?".
 
Orang ini menjawab :
"Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun".
 
Maka malaikat berkata :
"Jika kamu berdusta, semoga Allah Ta'ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula." 
Dan akhirnya benar ia kembali menjadi belang dan jatuh miskin lagi.
Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata :
"Saya ini orang miskin bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang mengizinkan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta'ala. Maka aku mohon kepadamu demi Dzat yang telah memberimu rambut yang bagus dan juga memberimu seekor sapi, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini ?”.
Maka orang ini berkata : "Sesungguhnya masih sangat banyak hak-hak yang harus aku tunaikan".
Lalu Malaikat bertanya kepadanya : "Sepertinya aku mengenalmu, bukankah kamu dulu berkepala botak dan orang-orang menjauhimu karena itu dan waktu itu kamu juga dalam keadaan faqir lalu Allah Ta'ala memberimu harta?"
 
Orang ini menjawab :
"Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun".
Maka malaikat berkata :
"Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta'ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula."
Dan akhirnya ia kembali botak dan jatuh miskin lagi.
Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata :
"Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang mengizinkan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta'ala. Maka aku memohon kepadamu demi Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu dan juga telah memberimu seekor kambing, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini?.” 

Maka orang ini menjawab :
"Dulu aku adalah orang yang buta lalu Allah Ta'ala mengembalikan penglihatanku dan dulu aku juga seorang yang faqir lalu Allah memberiku kecukupan, maka itu ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya karena Allah Ta'ala".
Maka malaikat itu berkata : 
"Simpanlah hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta'ala telah ridho kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (Si Belang dan Si Botak)".
(HR Bukhori)
Ketika sakit adalah coba’an, sesungguhnya sehatpun adalah cobaan. Ketika kemiskinan adalah coba’an, sesungguhnya kekayaanpun adalah coba’an. Berarti enak yang di coba sehat ? enak yang di coba kaya ?. Belum tentu, si belang dan si botak serta penjahat sekaliber Fir’aun menjadi kufur karena meraka dalam keadaan sehat dan kaya. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpanya, Semakin tingggi naik keatas, akan terasa semakin sakit ketika terjatuh.

Kamis, 14 Februari 2019

Februari 14, 2019

Selalu Ada Cara


Disebuah kampus, sedang terjadi perkuliahan mata kuliah fisika dengan dosen yang dikenal “killer”.

Di dalam kelas, ada seorang mahasiswa yang lagi “ngantuk” berat karena habis bergadang nugas semalaman, karena tidak kuat menahan kantuk, akhirnya sang mahasiswa tertidur dengan beralaskan buku fisikanya yang tebal.

Beberapa lama kemudian, ia terbangun dan kondisi kelas sudah sepi. didepan kelas ada 2 soal fisika yang dicatat di papan. Sang mahasiswa menganggapnya ini adalah tugas yang diberikan sang dosen dan harus dikumpulkan minggu depan.

Selama seminggu sang mahasiswa berjuang keras untuk menyelesaikan soal tersebut. Ia buka kembali catatan-catatan kuliahnya yang sudah berdebu karena tidak pernah dibuka lagi. Ia pun sampai ketiduran di perpustakaan kampus untuk mencari referensi soal tersebut.

Satu minggupun berlalu, dengan perjuangan yang “sangat” akhirnya sang mahasiswa hanya berhasil menyelesaikan 1 dari 2 soal tersebut walaupun jawabannya sampai puluhan lembar kertas.

Ketika perkuliahan dimulai, sang mahasiswa dengan ragu-ragu mengumpulkan jawaban soal tersebut kedosennya, sambil berkata ” saya minta maaf pak, hanya bisa menyelesaikan 1 dari 2 soal yang ada dipapan tulis minggu kemarin”

Mendengar hal itu, sang dosen tersenyum sambil berkata “soal yang saya tulis di papan itu bukan tugas kuliah, itu adalah 2 soal fisika yang belum bisa dipecahkan hingga saat ini oleh siapapun & luar biasanya anda berhasil menyelesaikannya. Ini semua karena dalam pikiran anda soal-soal ini bukanlah soal yang “sulit” tapi soal tugas kuliah biasa yang pasti mampu anda selesaikan. luar biasa..”

Sahabatku, seringkali segala sesuatu itu yang menghambat pikiran kita sendiri ditambah dengan anggapan orang kebanyakan yang kita yakini walaupun belum tentu kebenarannya.

Mulai saat ini biasakanlah berpikir “bisa”, berani “memulai”, bertindak “pantang menyerah” dan meyakini “segala persoalan selalu berdampingan dengan solusi”

Semoga kita senantiasa memperbaiki ibadah kita kepada Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Jumat, 11 Januari 2019

Januari 11, 2019

Cingkrang


Aku jarang banget benernya bikin artikel kaya gini, tapi apa mau dikata, keknya fenomena ini bener-bener menggelitik untuk di share. Apa itu? yaitu mengenai celana cingkrang cuy!

Aku masih inget dulu waktu tahun 2012an, aku masih SMP, punya tantangan tersendiri ketika kita pake celana cingkrang. Mulai dari dikata-katain sebagai orang yang kebanjiran, gak punya kain, sampai di cap pengikut aliran islam yang radikal! Sangat sulit aku waktu itu untuk sekedar menjalankan tuntunan Nabi Muhammad SAW tentang celana cingkrang.

عَÙ†ْ ابْÙ†ِ عُÙ…َرَ Ø£َÙ†َّ رَسُولَ اللَّÙ‡ِ صَÙ„َّÙ‰ اللَّÙ‡ُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…َ Ù‚َالَ Ù„َا ÙŠَÙ†ْظُرُ اللَّÙ‡ُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ù…َÙ†ْ جَرَّ Ø«َÙˆْبَÙ‡ُ Ø®ُÙŠَÙ„َاءَ Ø­َدَّØ«َÙ†َا

Dari Ibnu Umar, Rosululloh SAW pernah bersabda: "Alloh tidak akan melihat orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong." (HR Muslim K. Libas).


عَÙ†ْ عَبْدِ اللَّÙ‡ِ بْÙ†ِ عُÙ…َرَ Ø£َÙ†َّ رَسُولَ اللَّÙ‡ِ صَÙ„َّÙ‰ اللَّÙ‡ُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…َ Ù‚َالَ Ø¥ِÙ†َّ الَّذِÙŠ ÙŠَجُرُّ Ø«ِÙŠَابَØ©ُ Ù…ِÙ†ْ الْØ®ُÙŠَÙ„َاءِ Ù„َا ÙŠَÙ†ْظُرُ اللَّÙ‡ُ Ø¥ِÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙŠَÙˆْÙ…َ الْÙ‚ِÙŠَامَØ©ِ

Dari Abdullah bin Umar, Rosululloh SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya termasuk orang yang sombong orang yang memanjangkan pakaiannya, Alloh tidak akan melihatnya pada hari kiamat nanti. (HR Muslim K. Libas)

Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata tentangan, sinis, pengucilan, pengkerdilan, atau segudang kata lainnya itu lama-lama biasa sudah. Ternyata aku masih Alloh paring panjang umur dan tetap bisa bercingkrang ria. Yang unik dari cingkrang ini adalah, dari doeloe sampai awal tahun 2015an lah, aku sudah terbiasa dan selalu yakin kalo yang pake celana cingkrang, insya Alloh dari LDII. Sehingga seringkali ketika aku bertemu dengan seseorang yang mengaku dari warga LDII, aku langsung lihat celananya hehehe.

Pernah terjadi sebuah kejadian unik mengenai celana cingkrang ini. Waktu hari Jumat ketika aku lagi menunggu angkot dibawah terik matahari di dekat sekolah, tau-tau ada orang lari-lari, terengah-engah yang aku sendiri tak tahu siapa dia adanya! Kenal pun nggak, ketemu aja aku yakin baru waktu itu. Dan tanpa tedeng aling-aling doi langsung nembang nyerocos, "Mas! mohon amal sholehnya dibantu mas! ban sepeda saya bocor, gimana ini caranya? tolong bantu?!", dan segudang kata-kata lainnya yang membuat aku heran kenapa tuh orang baru ketemu seperti langsung kenal dan yakin aku ini juga warga LDII.

Ternyata, setelah kami bisa bersantai ria dan bercakap-cakap dengan tenang, ternyata alasan dia menyapa ku dan yakin aku adalah juga dari warga LDII karena celana yang kupakai! hehehe

Namun... hal itu mungkin akan sulit lagi terjadi di saat ini. Coba kita lihat anak-anak SMP, anak SMA dan sekolahan-sekolahan, cingkrang semua! Bahkan kadang ada yang cingkrangnya setengah betis! Tapi sayangnya pas kita lihat di atasnya, orangnya mungkin malah sedang rokokan, bahkan ada pula yang gandengan dengan yang bukan mahrom wkwkwwkwk

Well, jaman sudah berubah, dari mulai kecingkrangan kami ditentang dan dirintangi sampai akhirnya menjadi mode. Semua berubah sesuai perkembangan jaman, yah aku sih terus berdoa, semoga kita semua terus dalam ketetapan iman dan tak berubah ditempa masa.

Kamis, 27 Desember 2018

Desember 27, 2018

Ibu



Baru sekarang terasa ada ‘sesuatu’ kepada Ibuku. Saya perhatikan seolah kami berdua berlomba berbuat kebaikan. Ketika saya berbuat satu kebaikan, Ibu malah lebih baik lagi kepadaku, dengan berpuluh-puluh kebaikan. Sikapnya melebihi seperti kepada bukan anaknya. Hingga akhirnya saya merasa kalah; kapan saya bisa membalas kebaikannya, kalau terus-menerus Ibu selalu berbuat baik dan baik kepadaku? Padahal seharusnya sayalah yang paling berkewajiban untuk melakukan itu semua – birrul walidain. 
Ketika pulang kampung, selalu saja Ibu menyediakan makanan enak kesukaanku waktu kecil. Bubur Sruntul dan Tempe Goreng selalu disediakan. “ Ini untukmu,” katanya. Harusnya sekarang waktukulah untuk menyediakan makanan yang sehat buat Ibuku. Kala dia butuh asupan untuk memelihara kebugaran tubuhnya yang sudah renta. Tapi ini malah sebaliknya. Ketika saya tolak, dengan lembutnya ia menjawab; “Ibu senang, kamu sudah bantu Ibu selama ini. Dan ini sedikit yang bisa Ibu berikan. Makanlah.”  Aku pun terkesima, harus bagaimana lagi selain menerima dan mensyukurinya. Rasanya seperti mitra dagang. Jauh di relung hati, tertambat nelangsa, apalagi kalau mengilas balik kisah – kisah istimewa akan hal ini. Masih terngiang di dalam ingatan, kalau Ibu suka memberikan bagian-bagain makanan yang terenak kepada anaknya, untuk menghindari rebutan dan keributan.  Dan sebenarnnya Ibu pasti menginginkan makanan enak itu, tapi ia mengalah. Rela berbagi dan memilih makan makanan sisa yang ditolak anak-anaknya. Bahkan, makanan yang tidak enak pun dia bilang enak, sangat eunak, agar anaknya mau memakannya, mencontohnya.  Ohh, Ibu..! I missed U.

Dan ketika di ujung telepon engkau bertanya; “Gak ada rencana pulang?” Berarti itu sebenarnya perintah untuk pulang. Sayang aku selalu beralasan dengan kesibukan-kesibukan, acara demi acara dan pertemuan ke pertemuan sehingga engkau pun ‘sepertinya’ mafhum adanya. Padahal buat Ibu itu hal sederhana; bertemu dengan wajah anaknya dan cucu-cucunya. Namun justru sekarang berhadapan dengan wajah-wajah kesibukan, topeng-topeng acara, dan rupa-rupa kuliah yang abstrak buatnya. Namun, ia mencoba memahami zaman dan segala rupa dinamikanya. Betapa bersalahnya aku, tidak menjawab panggilan itu dengan tepat. Malah, aku hanya minta doa agar semua diberi kelancaran dan kebarokahan.
Bahkan, kala mendengar kabar sakit Ibupun, masih terus sibuk dengan urusan kuliah dan kuliah. Seraya dengan mudah bibir ini berkata;”Sudah dibawa ke dokter kan? Ke rumah sakit saja?” Duh, anak macam apa aku ini. Begitu ringannya berkata seperti itu, hanya alasan jarak dan waktu. Dan diri ini tersiksa karenanya. Ibu, berikan aku kesempatan untuk menjagamu. Maafkanlah anakmu.

Di dalam bebal memori otak anakmu ini, masih terngiang keinginan-keinginan Ibu. Walau itu datang samar dan sendu, deburnya masih jauh belum berlalu. Terekam nian dalam kalbu. Terngiang kencang di telingaku. Aku bisa merasakannya, namun tidak semua bisa aku penuhi. Walau sudah beribu kali aku mohon pertolongan Ilahi Robbi dan usaha kanan-kiri. Semoga cukup waktu untuk semua itu. Dan kemampuan ada bersamaku. Banyak yang bisa aku berikan, sebenarnya, tetapi aku belum bisa melakukannya. Jiwa ini masih berhitung dengan prioritas-prioritas yang bahkan dibuat-buat, hingga mengalahkan prioritas Ibu. Oh, betapa bodohnya aku.

Dalam hening malam bisu, dalam nestapa anak manusia dan pada waktu yang tersisa, aku selalu berdoa untuk kebaikanmu Ibu. Masih banyak yang belum bisa saya lakukan, banyak yang masih harus saya kerjakan, semoga aku bukan menjadi anak yang durhaka. Melalui dirimulah aku lahir ke dunia, atas jasamulah aku bisa seperti sekarang dan kepadamulah aku punya kewajiban hak, semoga engkau bisa menerimanya. Ridha robbi biridhal walaadi.  Dan semoga Allah berkenan memberi hidayah kepadamu. Itulah harapan terakhirku. Amin.
Desember 27, 2018

Menanggulangi Rasa Was-Was


Apabila kita sedang salat, misalnya salat Zuhur, kemudian kita merasa ragu apakah kita sudah dalam rakaat yang ke-4 atau masih dalam rakaat yang ke-3? Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar kita segera mengambil keputusan dengan cara menganggap bahwa kita sedang dalam rakaat yang ke-3. Kemudian kita tambahi satu rakaat lagi dan akhirilah dengan sujud sahwi. Selesai. Kalau kita tidak segera mengambil keputusan maka bisa jadi sepanjang salat kita hati hanya bertanya-tanya saja “rakaat ke-3 apa ke-4?” dan kekhusyu’an salat kitapun akan terganggu.
Demikian pula ketika ada seseorang melapor kepada Rasulullah bahwa dia dalam salatnya merasa seolah-olah keluar angin. Rasulullah pun menjawab bahwa dalam keadaan ragu seperti itu orang tadi disuruh untuk segera mengambil keputusan dengan sabda beliau: “Lanjutkan shalatmu, jangan hiraukan perasaan ragu yang mengganggumu kecuali kalau engkau yakin ada suaranya atau ada baunya alias engkau yakin bahwa itu adalah buang angin betulan”. Karena kalau hanya sekedar ragu, bisa jadi perasaan ragu itu justru dihembus-hembuskan oleh syetan agar kekhusyu’an shalat kita hilang.
Dalam hal berwudhu, Rasulullah pernah berwudhu dengan menggunakan air hanya +/- setengah liter. Karena kewajiban membasuh anggota wudu itu hanya 1 kali – 1 kali. Kalau kita membasuhnya 2 kali – 2 kali atau 3 kali – 3 kali, itu sifatnya kesempurnaan. Dan itu sudah cukup untuk menghilangkan hadas kecil. Maka kita pun harus merasa cukup dengan itu karena kalau berwudhu dengan membasuh anggota wudu melebihi 3 kali – 3 kali itu malah tidak boleh. Rasulullah pun pernah mandi dengan menggunakan air hanya satu sho’ (+/- 3 liter) dan itu cukup untuk menghilangkan hadas besar. Kita harus ingat bahwa manusia yang paling bertaqwa dan paling wara’ itu adalah beliau Rasulullah. Namun beliau tidak pernah memberat-beratkan diri dalam beribadah dan memang beliau tidak suka kepada orang yang memberat-beratkan diri dalam beribadah.
Mengapa orang bisa ragu alias was-was? Karena pada hakekatnya orang tersebut punya rasa kurang percaya diri. Maka Rasulullah mengajarkan agar kita percaya diri saja untuk tidak mengikuti godaan syetan yang suka menghembus-hembuskan keraguan atau rasa was-was tadi. Orang yang was-was memang perlu dibantu agar punya rasa percaya diri dan merasa cukup dengan apa yang diajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah.

Oleh: KH. Aceng Karimullah

Rabu, 17 Oktober 2018

Oktober 17, 2018

Didikan yang Lembut


Aku sering denger dan baca biografi seseorang. Kebanyakan mereka bersyukur dengan didikan keras dari orang tuanya. Didikan keras adalah pelajaran terbaik yang mereka syukuri karena bener-bener mencetak mereka dengan mental yang baik.
Sedangkan aku sendiri, orang tua ku sendiri kurasa nggak pernah mendidikku dengan keras, mereka mendidikku dengan sangat baik. Tetap, mereka akan marah jika aku melakukan hal yg salah. Hanya, bukan didikan keras yg membentuk mental yg tahan banting dengan situasi apapun.
Di dunia parenting pun juga, tidak sedikit yang mengatakan bahwa tidak boleh memanjakan anak. Tapi ayah ibuku sering memanjakan ku dengan apapun yang mereka punya, dari hal sederhana sampai hal yang berharga yang mereka punya.
Ketika aku berpikir seperti itu, apakah aku akan menyesali dan menyalahkan orang tua? Kenapa aku punya mental anak manja, tidak bisa sekuat teman² yg di didik keras oleh orang tuanya? Kurasa, sebagian kalian akan bilang tidak. Akupun juga akan begitu.
Aku akan bersyukur karena mereka always deserve good. Kenapa orang yg berlaku baik harus disalah²kan? Jika hanya kita punya mental yang tidak sebaik teman² yg di didik keras oleh orang tuanya. Hendaknya kita sendiri yang harus merubah diri kita.
Pernah kubaca cerita dari artikel tentang study habit, yang mempunyai makna dari ceritanya, intinya dari yg kufahami, bahwa ada dua macam tipe pembelajar. Dia pembelajar yang disiplin dan pembelajar yg kurang disiplin. Bersyukurlah bagi pembelajar yg sudah disiplin. Dan bagi yang masih kurang disiplin, berjuanglah keras melawan pengganggu² proses belajarnya. Dan hal itu wajar dan memang butuh proses yang cukup berat. Mungkin, biarlah kerasnya kehidupan yang mengajari kita.
Dalam bentuk apapun orang tua mendidik kita, itulah bentuk kasih sayangnya pada kita. Kedua hal itu berbeda dan pastilah memiliki kekurangan dan kelebihan masing².Yang terpenting kita tidak pernah berhenti belajar dan bersyukurlah. Bersyukur pada pemberi kehidupan (Allah Subhaanallahu Wata'aala), bersyukur pada yang mendidikmu dengan kasih sayang yang tulus, dan besyukurlah pada dirimu mau sabar dan belajar dengan ikhlas :)
-rayy-
#ceritaSantri
#ayoMenulis
#LiterasiyangLebihBaik

Selasa, 16 Oktober 2018

Oktober 16, 2018

Kisah Kehebatan Khalid Bin Walid


Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.
Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di berhentikan sebagai panglima perang. Segera menghadap!"
Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemberhentiannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemberhentian. Apa betul saya diberhentikan?"
"Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.
"Kalau masalah diberhentikan itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"
"Kamu tidak punya kesalahan."
"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya diberhentikan? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"
"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."
"Lalu kenapa saya diberhentikan?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya berhentikan. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah diberhentikan, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting atau orang berpengaruh saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan diberhentikan dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.....bahkan hingga yang paling ekstrim.... Tuhan pun digugat.. naudzubillah mindzalik

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah diberhentikan beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah diberhentikan. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah diberhentikan."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah."

Penulis: Ustadz Dana Mekaroma (Staff Pengajar PPM Khoirul Huda 3)