Agama secara tersirat maupun tersurat mendukung ide berbakti pada orang tua. Secara religius, berbakti pada orang tua merupakan suatu bentuk kewajiban anak pada orang tua karena berbagai alasan; dalam konteks religius maka dengan berbakti pada orang tua, anak akan mendapatkan pahala dan kesediaan orang tua untuk mendoakan mereka. Sebaliknya jika anak tidak berbakti pada orang tua maka hal ini dapat mendatangkan dosa dan kerugian bagi anak.
Oleh karena itu, usaha anak berinteraksi pada orang tua merupakan suatu usaha yang ilahiah dan mulia namun juga berbahaya dan beresiko. Ini adalah usaha yang dapat mendatangkan rahmat Tuhan juga murka Tuhan karena suatu alasan sederhana yakni tidak ada ketentuan jelas bagaimana berbakti pada orang tua itu. Berbakti pada orang tua adalah usaha yang sangat subjektif relatif terhadap orang tua serta terikat norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat tempat tinggal anak dan orang tua. Suatu bentuk tindakan dapat dipandang secara berbeda tergantung dari nilai yang dianut, moral, serta budaya yang berkembang dalam masyarakat. Keadaan yang sangat relativis ini rentan menimbulkan masalah baik pada orang tua maupun anak dan tidak jarang masalah ternyata muncul di kedua belah pihak—namun tidak ada pihak yang sadar akan masalah ini.
Kenyataan ini pada akhirnya menjadikan usaha berbakti pada orang tua punya dua sisi yang bertolak belakang. Di satu bagian ini adalah kerangka yang dapat mempersatukan bukan hanya orang tua dan anak namun juga keluarga besar, masyarakat, serta satuan sosial yang lebih besar. Di sisi lain, berbakti pada orang tua bisa berujung pada ekploitasi pada salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak jika ternyata terjadi terjadi hambatan interaksi yang tidak terlihat. Berbakti pada orang tua bisa jadi sangat menguras tenaga dan seakan tanpa ada imbal balik sama sekali sehingga setiap usaha jadi tidak memiliki makna. Ketika anak melakukan berbagai hal guna menyenangkan hati orang tua namun balasan orang tua ternyata tidak sesuai dengan harapan anak maka anak akan merasa ditindas dan dimanfaatkan oleh orang tua sehingga anak kehilangan sosok yang dapat mereka jadikan sandaran. Lebih jauh, anak akan mengambil jarak dari orang tua dan pada akhirnya mengabaikan orang tua sepenuhnya.
Sebaliknya saat orang tua telah berbuat kebaikan namun anak gagal menunjukkan apresiasi yang pantas maka orang tua akan melihat anak sebagai suatu masalah. Anak akan jadi pihak yang asing namun sekaligus dekat karena sudah barang tentu berada dekat dengan orang tua entah secara fisik maupun emosional yang mana keadaan ini menjadikan keluarga suatu entitas yang kacau. Keluarga akan rentan bubar dan anggotanya merasa asing di dalamnya namun senantiasa terikat sehingga efek yang ditimbulkan kurang lebih sama yakni pengabaian pada bangunan utuh keluarga.
Akan tetapi bagaimanapun juga, keutuhan keluarga dalam kerangka hubungan anak-orang tua dapat dipertahankan bahkan diperkuat jika misalnya perkara-perkara relatif yang ada di sekliling anak dan orang tua dapat dicari jalan tengahnya. Menyatukan persepsi, kompromi, dan pengertian dalam hubungan orang tua dan anak dapat menjadikan usaha berbakti pada orang tua suatu proses kreatif yang produktif dan tidak ekploitatif. Kesamaan persepsi antara orang tua dan anak menjadikan usaha yang dilakukan tidak berat sebelah sehingga kedua belah pihak dapat bekerja bersama secara sadar. Unsur kewajiban dalam wacana berbakti pada orangtua jadi samar karena tidak ada unsur paksaan di dalamnya bahkan jika interaksi mengalami krisis maka kedua belah pihak akan secara sadar memperbaiki sistem yang ada secara gotong royong karena tidak ada unsur penindasan dalam kondisi ini.
Oleh karena itu, tantangan utama dalam usaha berbakti pada orang tua bukanlah bagaimana melakukan hal terbaik bagi salah satu pihak tapi bagaimana kedua belah pihak dapat mengenal satu sama lain. Usaha saling memahami dan menerima setiap pihak yang terlibat dalam interaksi orang tua dan anak tidak lantas menghilangkan posisi orang tua dan anak namun ini justru dapat memperjelas posisi keduanya dalam pola hubungan yang lebih kreatif. Hubungan orang tua jadi jelas namun luwes sehingga adaptif pada jaman dan perkembangan setiap pihak. Adaptasi jadi sesuatu yang lumrah sehingga hubungan keduanya merupakan hubungan yang kaya makna, dinamis, namun juga terarah. Kedua belah pihak akan secara aktif terlibat dalam hubungan sesuai proporsi mereka dan lebih jauh, tidak ada yang terpaksa juga disini—semua terjadi begitu saja dan sangat lumrah.
tulisan ini juga dimuat di blog penulis



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah sebijak mungkin.
Komentar tidak pantas akan di hapus oleh admin.