News

Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2020

September 28, 2020

Sabar Itu Tidak Ada Batasanya

“Udah sabar aja” 

Ungkapan ini begitu sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Apakah memang benar adanya jika kesabaran itu ada batasnya?. 

Sabar Itu Tidak Ada Batasanya

Sabar berasal dari Bahasa Arab Shabr, bentuk masdar dari kata kerja shabara-yashbiru yang artinya, ketabahan, ketahanan diri, daya tahan.

Sekarang mari kita renungkan dari arti katanya sabar yang berarti ketabahan, misalnya saya katakan "Saya sabar menghadapi musibah." Kalimat ini bermakna bahwa saya tabah menghadapi ujian, nah saat saya mengeluh, putus asa akibat musibah berarti saya sudah tidak tabah lagi, itu artinya saya tidak sabar.

Selanjutnya kita mari memahami makna sabar yang berarti ketahanan diri atau daya tahan. Misalnya, Ahmat Firdaus memiliki daya tahan tubuh yang hebat sehingga tidak terkena penyakit. Saat Ahmat Firdaus menderita sakit maka saat itu pula dapat dikatakan bahwa Ahmat Firdaus tidak memiliki daya tahan tubuh yang hebat.

Sedangkan menurut istilah syari'at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.

Sementara bila kita lihat makna sabar menurut istiah syariat menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu, memukul/ menggebrak sesuatu, atau memecahkan sesuatu misalnya gelas atau piring.

Nah saat kita tidak bisa menahan lisan dari berkeluh kesah, tidak bisa menahan hati dari marah, tidak bisa menahan anggota badan dari menampakkan perilaku yang menandakan kemarahan, maka saat itu tidak bisa dikatakan bahwa kita ini sabar.

Lantas apanya yang terbatas kalau begitu, yang terbatas adalah kemampuan kita untuk bersabar, itu yang betul. Bukan sabarnya yang terbatas, karena sabar memang tidak memiliki batas, sebab jika terbatas bukan sabar namanya. Saat sabar ada batasnya, maka saat ia melewati batas maka akan menghilangkan hakikat makna sabar itu sendiri.

Apalagi kalau dikaitkan dengan macam-macam sabar, ada sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, sabar dalam menghadapi musibah.

Saat tidak menjalankan ketaatan bisa dikatakan orang tersebut tidak sabar, sebab ia tidak mampu bertahan atau tidak mampu menahan dirinya untuk selalu berada dalam ketaatan. Ketika seseorang berbuat maksiat kepada Allah, bisa dikatakan ia sudah sabar menjauhi maksiat, sebab tidak mampu menahan dirinya untuk tidak berbuat maksiat.

Jadi, ungkapan "Sabar itu ada batasnya." Adalah ungkapan yang salah, sama sekali tidak tepat serta bertentangan dengan makna sabar baik secara bahasa ataupun menurut istilah syariat.

Sabar memiliki pahala yang tidak terbatas di sisi Allah, makanya sabar juga tidak ada batasnya.


Oleh : Erwin Dwi Febrianto (Santri 2020)
Editor : Yunus & Bilqiest

Senin, 10 Agustus 2020

Agustus 10, 2020

Perkara Maaf dan Memaafkan

 

Maaf ya... maafin aku... aku minta maaf karena aku....

Kata yang cukup sederhana, mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan.

Kenapa hal itu bisa terjadi?. Terkadang kita memasang ego dan gengsi yang terlalu tinggi. Apalagi perkara meminta maaf.

Ibarat kata yang salah siapa dia yang harus minta maaf duluan. Padahal ya, semua orang terkadang selalu merasa dirinya benar namun belum tentu seperti itu. Mungkin dia benar disatu hal tapi hal lainnya bisa saja dia melakukan kesalahan. rumit juga ya.

Lalu sebaiknya bagaimana nih?

Sekarang begini saja, mari kita sama-sama introspeksi diri kita. Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita banyak berinteraksi dengan orang lain entah itu berupa perkataan atau perbuatan. Diantara puluhan, ratusan bahkan ribuan kata dan perbuatan yang telah kita tujukan untuk orang lain apakah mungkin tidak ada kesalahan atau ketidaksengajaan kita yang membuat mereka sakit hati?. Rasanya sangat mustahil. Apalagi kita sebagai manusia yang memang pasti melakukan kesalahan dan dosa, baik itu dosa terhadap sang pencipta maupun dosa kepada sesama. Sebagaimana hadist dari nabi:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Seluruh anak Adam itu bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang senantiasa bertaubat.”

 

Kalau suatu waktu kita merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu, maka boleh dicoba untuk memikirkan analogi diatas. Minta maaf bukanlah suatu yang rendah atau hina, namun permintaan maaf adalah hal yang mulia dan suatu perbuatan yang menunjukkan kelapangan dan kerendahan hati. Jelas sekali merupakan hal yang bernilai tinggi.

 

Kalau meminta maaf adalah hal yang mulia maka memaafkan juga memiliki nilai yang setara. Minta maaf dan memaafkan adalah dua hal yang saling berkaitan dan tak dapat dipisahkan. “Memaafkan harus dilakukan meskipun itu adalah hal yang sangat sulit bagi kita” pernyataan tersebut masih menjadi pro dan kontra dalam kehidupan bersosial. Namun harus disadari juga, memaafkan sebuah kesalahan tidaklah sama dengan melupakan semua kejadian masa lalu yang mana juga ada kekecewaan didalamnya. Tentu saja hal itu berbeda, namun kita juga harus berusaha untuk ikhlas dan berdamai dengan semua itu. Walau sulit untuk dilakukan, tapi kita harus yakin dan selalu berusaha. Sabar, pelan-pelan, sekalipun emosi masih saja menghampiri, membenci orang lain apalagi menyimpan dendam tidak akan membuatmu tenang dan bisa melanjutkan hidup tanpa beban. Solusinya ya memang kita harus memaksa diri kita untuk memaafkan orang lain, berdamai dengan ego. 

 

Memaafkan juga dapat membuat kita bersyukur, karena itu berarti kita masih diberi oleh Allah kelapangan hati untuk bisa memaafkan orang lain. Allah saja Maha Pengampun dan Menerima Taubat bagi hamba-hambanya yang berbuat dosa kemudian mau bertobat. Lalu siapa diri kita sehingga sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain yang mau mengakui kesalahan dan meminta maaf. Bukankah seharusnya kita malu?.

Surat Ali 'Imran Ayat 133

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Surat Ali 'Imran Ayat 134

لَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Nah tuh, sudah jelas bukan kalau Allah akan mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan termasuk orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain?

 

Gimana? Sudah siap untuk berdamai dengan semua itu?

Mulailah untuk menerima semua yang sudah terjadi dalam hidup kita. Jadikan semua itu sebagai nasihat juga pelajaran bagi kita untuk meneruskan hidup dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Maafkan semua kesalahan diri sendiri, orang lain dan ikhlaskan semua itu menjadi bagian dari lika-liku indah kehidupan yang memang telah Allah qodarkan untuk kita.

Semangat berproses teman-teman, hidup memang tidak mudah. Perlu jatuh, sakit, dan terluka tapi jangan berlama-lama. Bangkit dan buktikan bahwa kamu mampu untuk melewati ujian demi sampai pada tingginya derajat yang telah Allah siapkan.

Semoga bermanfaat :)

 

Rabu, 22 April 2020

April 22, 2020

Menyambut Bulan Ramadhan



Sebentar lagi kita akan menjumpai bulan suci Ramadhan. Bulan penuh rahmat telah yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim di penjuru dunia. Lalu sudah sampai manakah persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan ini? Alangkah baiknya persiapan tersebut dilakukan jauh-jauh hari.
Ada tiga tips yang perlu dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan, yaitu:
1. Persiapan jiwa, akal, harta dan jasmani.
Persiapan jiwa diperlukan agar kita memiliki kesiapan mental untuk menjalankan ibadah Ramadhan hingga kita senang melaksanakannya. Persiapan yang bersifat spiritual atau ma’nawi ini bisa dilakukan dengan mulai meningkatkan amal ibadah menjelang Ramadhan, seperti membayar hutang puasa bagi yang berhutang pada tahun lalu, memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdoa, berdzikir, memohon maaf atas kesalahan yang selama ini kita lakukan dan lain-lain.
Persiapan akal dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Lebih khusus lagi ilmu yang terkait dengan puasa, agar memiliki wawasan yang benar tentang ibadah di bulan Ramadhan. Belajar memaknai hikmah-hikmah yang terkandung di dalam bulan Ramadhan. Tema-tema perlu disusun dengan baik, hingga nantinya ketika menjalani ibadah Ramadhan dapat melakukannya dengan optimal dan dapat meraih hasil yang maksimal.
Persiapan harta atau Maliyah ini bisa dilakukan dengan menabung sebagian harta kita sebagai bekal berinfaq selama Ramadhan. Sehingga harta kita dapat disalurkan untuk memberi takjil, buka sahur bersama, menunaikan zakat fitrah dan shadaqah lain yang bermanfaat.
Persiapan jasmani dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan, diantaranya dengan cara berolahraga, menjaga kebersihan rumah maupun lingkungan, dan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat serta menyehatkan. Ini penting karena rangkaian ibadah yang telah terformat selama Ramadhan hanya akan bisa dilaksanakan dengan optimal oleh orang yang memiliki kesehatan prima. Persiapan jasadiyah ini dengan selalu menjaga dan meningkatkan kesehatannya serta persiapan aktivitas pendukung suksesnya ibadah Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah yang bermanfaat seperti pesantren Ramadhan, pengajian, dan kegiatan lain yang positif dan mengandung pahala.
2. Melaksanakan apa yang sudah kita siapkan dan canangkan
Persiapan matang membantu kita untuk bisa beribadah dengan khusyuk dan runut. Ibadah puasa misalnya, bisa kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, baik dari sisi ilmu, nilai-nilai akhlak di dalamnya maupun aktivitas pendukungnya. Dalam hal ini, Lima Sukses Ramadhan yakni puasa, tadarus Al Quran, shalat tarawih, lailatul qadar, dan zakat fitrah menjadi misi yang harus kita raih selama Ramadhan.
3. Melanjutkan keberhasilan ibadah Ramadhan
Menindaklanjuti keberhasilan ibadah Ramadhan bisa dilakukan dengan sikap, perilaku yang lebih syar’i dan meningkatkan kegiatan ibadah yang lebih baik sesudah Ramadhan berakhir. Dengan demikian ibadah Ramadhan memberi dampak dan pengaruh yang positif, tidak hanya bagi individu tapi juga bagi keluarga dan masyarakat di sekitar kita.
Semoga Ramadhan yang kita jelang ini, dapat membuktikan keberhasilan ibadah kita selama Ramadhan melalui peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Penulis: Imam Pujiarto
Editor : Andik Kurniawan Santoso

Senin, 24 Februari 2020

Februari 24, 2020

Mantapkan Niat dan Tetap Fokus




Dalam mengarungi hidup ini terkadang banyak sekali hambatan,rintangan membentang tapi kata kera sakti itu bukan masalah dan tak jadi beban pikiran.

Roda selalu berputar dalam kehidupan kadang berada di atas kadang berada dibawah. Begitulah hidup, kalau tidak begitu bukan hidup namanya. Dalam benak kita selalu menginginkan apa yang kita inginkan. Cita-cita yang kita akan gapai merupakan keinginan kita, terkadang ketika kita melihat orang yang sukses malah kita kurang bisa bersyukur, malah kebanyakan negatif thinking.

Lihatlah perjuangannya, saya yakin perjuangannya itu tak semudah membalik telapak kaki, yaaa memang sulit. Mengapa mereka senang dan bangga, ya itu tadi karena mereka telah berjuang mati-matian sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai. Begitu pula jika kita punya tujuan hidup, maka nyatakanlah tujuan itu dan kita sempurnakan ikhtiar kita, adapun hasilnya Allah lah yang menentukan.

Kemudian ada yang berkata,”Aku sudah berikhtiar sebaik mungkin, kok ga’ tercapai sih?”. Aduuuh itu lagi, kita harus intropeksi diri, bahasa kerennya bermuhasabah. ”Aku ini banyak dosanya ga’ sih, banyak maksiatnya ga’sih?”, itulah yang perlu di investigasi. Karena dosa itu sifatnya menghambat! So segeralah kita bertobat dan tingkat frekuensi beribadah padaNya. Tapi tekadkan dalam hati bahwa setelah Allah memberi kesuksesan, kita tidak menurunkan intensitas ibadah kita, lanjuuutkan sampai titik ajal kita.

Orang gagal itu biasa namun jangan sepelekan “gagal” ini, karena untuk sukses kita bisa belajar dari kegagalan. Anda tau pencipta lampu?? Thomas Alfa Edison, hmmm sudah berapa ribu kali dia melakukan percobaan dan gagal, dan apakah dalam percobaan ke 999nya ketika gagal dia akan menyerah??, tentu tidak. Buktinya sekarang, lampu ada dimana-mana, menjadi penerang dimalam hari. Berjuta – juta manfaat yang dapat kita ambil.

Perlu diketahui dengan sebuah masalah, kita akan tumbuh dan berkembang menjadi manusia berkualitas, jika kita lari dari masalah, itu namanya lari dari kasih sayang Allah, rugi kan. Dalam perbuatan apapun harus didasarkan niat full karenaNya memohon ridho dan petunjuknya, insya Allah pertolongan Allah akan datang. Ingat bahwa Allah mengetahui apa yang kita butuhkan  daripada apa yang kita inginkan. Maha Besar Allah.

Hmmm, Cobaan yang datang ketika kita full ikhtiar adalah sebagai penyucian jiwa, yaitu dengan sabar dan tabah. Namun kalau sudah tidak sabar muncullah caci maku yang tak jelas. Terkadang banyak waktu yang terbuang, akhirnya malas dan unmood itu datang.

Bagaimana cara mengantisipasinya?? kita isi waktu luang kita dengan kegiatan yang positif, tingkatkan frekuensi dan kualitas ibadah .Intinya gunakan waktu se efisien mungkin,sibukkanlah dalam kebaikan.

Niat merupakan kesiapan kita secara full matang dalam menyiapkan aksi, kalau sudah ada niat tulus pasti terlaksana. Contohnya tukang parkir, dia punya motor dan mobil banyak, ketika satu per satu di ambil, ya biasa-biasa saja, itu karena sudah ada niat. Dengan adanya niat maka fokuskanlah lalu ikhtiar dan yang terakhir berdo’a. Dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan secara terus menerus maka akan melahirkan suatu karakter. (AKS)

Rabu, 29 Januari 2020

Januari 29, 2020

Menjaga Niat Beribadah Sangat Penting


Kita sebagai umat islam, mungkin pernah mendengarkan salah satu kutipan ayat didalam Al-quran.

Dalam ayat tersebut Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku,” (QS. Adz Dzariyaat: 56).


Allah menciptakan manusia hidup didunia ini itu untuk beribadah. Mengerjakan ibadah itu terkadang mudah untuk dilakukan asal ada kemauan dan kesadaran untuk menjalankan kewajiban. Akan tetapi ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam beribadah kepada Allah. Sebab jika tidak memperhatikan ini, ibadah yang susah payah kita lakukan ternyata ditolak oleh Allah, yaitu menjaga niat beribadah.

Melakukan ibadah rawan disusupi syaiton dengan sifat riya, pamer, ingin dipuji, ingin dikatakan hebat, ahli ibadah dan lain sebagainya. Dikarenakan sifat-sifat tersebut dapat merusak amal ibadah yang dikerjakan.

Salah satu contoh amalan yang bisa rusak karena kita tidak bisa menjaga niat ibadah. Suatu hari mungkin kita pernah membuka media sosial dan melihat sebuah status seseorang yang baru saja mengkhatamkan Al-quran. Di lain waktu beliau juga pernah melihat seseorang yang membuat postingan karena bisa beribadah ke tanah suci (Mekah-Madinah). Seolah-olah yang diunggah di sosial media merupakan wujud rasa syukur, tapi (tanpa disadari) disitu disusupi oleh rasa ingin disanjung, ingin dilihat hebat. Jangan sampai hati kita salah niat. Jangan sampai ibadah kita tersusupi dengan niat-niat yang tidak karena Allah.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kasus lain termaksud diantaranya mengajarkan ilmu tapi niat untuk mendapatkan pangkat, jabatan, kedudukan ingin dilihat hebat dan dikatakan orang yang faham agama. Mencari dunia dengan agama, sehingga berani menerobos batas-batas aturan agama. Naudzubillahi min dzalik.

Minggu, 05 Januari 2020

Januari 05, 2020

Beramal Sedekah, Dari Sisi Kesehatan dan Ekonomi


Beramal menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk sosial yang hidup di dunia ini, tidak lepas dari pertolongan orang lain.

Allah menciptakan makhluk di dunia ini mempunyai jalan cerita dan takdir yang berbeda-beda, terkadang satu sama lain saling terkait. Misalnya dalam hal rezeki, adakalanya seseorang diberikan Allah rezeki yang cukup bahkan berlimpah daripada orang lain.

Hal tersebut tentu ada maksud dan tujuannya, salah satunya agar rezeki itu dibagi kepada yang lain. Atau bisa jadi Allah sengaja menitipkan rezeki tersebut untuk diberikan pada orang yang membutuhkan maupun yang tidak. Ada hak yang harus diberikan pada penerimanya dan menjadi berkah baginya.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, menginfakkanlah kalian (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami (Allah) berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada kekasih dan tidak ada lagi syafa'at (hari kiamat). Sesungguhnya Allah tidak senang pada orang-orang yang dzolim” (Qs. Al Baqarah: 254)

Di dalam Islam, istilah zakat, infak dan sedekah menjadi istilah yang tidak asing. Walaupun ada perbedaan dari segi ketentuan dan waktu pembayarannya, ketiganya merujuk pada perilaku seseorang yang memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain atau lingkungan sekitar. Tidak jarang beramal atau bersedekah akan memberikan efek domino yang positif.

Dari sisi sains ‘memberi’ atau ‘beramal’ memiliki banyak manfaat, baik dari segi psikologi maupun kesehatan. Dengan beramal berdampak pada peningkatan kepuasan hidup yang membuat seseorang merasa lebih bahagia. Efek tersebut tersebut mengurangi tingkat stress yang membuat seseorang lebih sehat.

Dilansir dari moneycrash.com, didukung oleh para peneliti dari Universitas John Hopkins dan Universitas Tennessee menemukan orang yang beramal mengalami penurunan tingkat stres dan tekanan darah yang lebih rendah.

Seseorang yang aktif dalam kegiatan amal dapat merangsang respon otak seperti respon yang diaktifkan oleh obat-obatan. Respon ini memunculkan efek dopamin dan endorfin (efek yang positif) yang disebut sebagai perilaku hedonis yang bermanfaat.

Pernyataan ini didukung dalam sebuah riset yang dilakukan oleh profesor dari Universitas Oregon dan rekan-rekannya dalam jurnal yang berjudul: Neural responses to taxation and voluntary giving reveal motives for charitable donations.

Beramal sedekah tidak hanya dianjurkan bagi semua orang, tidak hanya dikhususkan bagi golongan tertentu. Beberapa riset menunjukkan efek positif dari sedekah salah satunya dapat meningkatkan pendapatan.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman: “Gambaran orang yang menafkahkan (infaq) harta mereka dalam jalan Allah sebagaimana gambaran sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai dan masing-masing tangkai menumbuh seratus benih. Allah melipatkan gandakan (pahala) pada orang yang dikehendaki. Adapun Allah Maha Luas (ilmu dan rezekiNya) lagi Maha Mengetahui” (Qs. Al Baqarah: 254)

Dilansir dari forbes.com, dalam buku yang ditulis Elizabeth Dunn dan Michael Norton yang berjudul Happy Money: The Science of Happier Spending (2013) menemukan fakta bahwa menyumbangkan uang memberikan kebahagiaan dan menggandakan pemasukan.

Arthur C. Brooks, seorang ilmuwan sosial asal Amerika sekaligus presiden American Enterprise Institut juga menganalisa data dari lembaga survei terkemuka Amerika, The Social Capital Community Benchmark Survey (The SCCBS), tentang hubungan beramal dan kekayaan .Dari analisa tersebut ditemukan bahwa orang yang beramal sedekah menghasilkan lebih banyak uang.

Lembaga survei tersebut juga mengungkapkan fakta orang akan berdonasi lebih banyak 7% ketika pendapatannya naik sebanyak 10 %. Walaupun pernyataan itu sulit dipahami dari sisi ekonomi, secara garis besar faktanya beramal akan meningkatkan pendapatan seseorang.

Ini menjadi salah tanda kekuasaan Allah dan benarnya firman Allah dalam Al-Quran sebelum banyaknya penelitian ilmiah tentang keutamaan beramal. Dalam surat Al-Baqoroh, Allah berfirman:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah yang menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (Qs. Al Baqarah: 245)

Pada hakikatnya beramal sedekah itu menabung kebaikan bagi diri seseorang untuk masa depan. Tentunya harus berlandaskan keikhlasan dan niat murni karena Allah (mukhlis lillah) agar menjadi tabungan pahala bagi siapapun yang mengerjakannya.
Januari 05, 2020

Untuk Apa Masa Mudamu Dihabiskan?


Masa muda adalah masa yang sangat berharga dan tak akan berulang. Segala potensi, minat, bakat, kemauan dan kemampuan berkumpul di dalamnya. Bahkan di masa inilah, seorang manusia memiliki tiga kesempatan emas yang belum tentu dimiliki di masa kanak-kanak ataupun di masa tua.

Pertama, seseorang memiliki pikiran jernih dan daya ingat yang tajam. Sehingga apa saja yang dipelajarinya mudah ia fahami. Seorang sahabat Nabi sekaligus ahli tafsir al-Qur’an, Abdullah bin Abbas radiallahu anhu, pernah berkata,
مَا بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَبِيًّا إِلَّا وَهُوَ شَابٌّ، وَلَا أُوتِيَ عَالِمٌ عِلْمًا إِلَّا وَهُوَ شَابٌّ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan ia masih muda, dan tidaklah seorang Alim diberi ilmu melainkan ia masih muda.” (HR. Thabarani dalam Mu’jam al-Ausath no. 6421)

Kedua, dia juga memiliki fisik dan jasmani yang kuat nan sehat. Otot-ototnya kuat dan staminanya penuh. Mampu bergerak bebas dan melakukan banyak aktivitas. Semangatnya membara dan tak khawatir dengan segala bahaya. Terbukti saat terjadi perang badar yang kala itu jumlah pasukan Islam hanya 313 orang. Setelah nabi memberi pengarahan lalu para pemuda Islam maju ke barisan terdepan sedangkan orang-orang tua menetap di barisan belakang hingga Allah memberi kemenagan.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ بَدْرٍ مَنْ فَعَلَ كَذَا وَكَذَا، فَلَهُ مِنَ النَّفَلِ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: فَتَقَدَّمَ الْفِتْيَانُ وَلَزِمَ الْمَشْيَخَةُ الرَّايَاتِ فَلَمْ يَبْرَحُوهَا…الأحديث
Dari Ibnu Abbas dia berkata, Rasulullah saw. bersabda pada saat perang Badr, “Barangsiapa yang melakukan begini dan begini maka baginya tambahan sekian dan sekian.” Ibnu Abbas berkata, maka para pemuda maju ke barisan depan sedangkan orang-orang tua menetap di barisan belakang menjaga bendera dan mereka tidak meninggalkannya, al-hadits. (HR. Abu Daud Kitab Jihad no. 2737)

Ketiga, seorang pemuda umumnya belum terbebani dengan sederet amanah dan tanggung jawab sosial maupun rumah tangga. Sehingga memungkinkan dirinya memfokuskan perhatian menunutut ilmu dan belajar secara optimal. Berkonsentrasi penuh mengasah kemampuan dan memperkaya pengalaman hidup. Sebagian besar waktunya hanya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya. Giat melakukan ibadah fardhu maupun ibadah sunnah sebab belum tersibukkan oleh urusan lainnya.

Rasulullah saw. bahkan telah menyebutkan, bahwa ia termasuk di antara tujuh orang spesial. Beliau bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ…وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
“Tujuh golongan manusia yang akan memperoleh naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (di antaranya) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabbnya…” (HR. Bukhari no. 660)

Selagi masih muda hendaklah engkau memanfaatkan tiga kesempatan emas ini. Bukan malah terlena dengan gemerlapnya dunia. Silau oleh keindahan dan kesenangan jangka pendek. Lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk hal-hal tak bermanfaat. Lalai akan hari pertanggung jawaban kelak.

Wahai pemuda, ingatlah selalu olehmu wasiat Rasulullah saw. ini:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, masa mudamu sebelum masa tuamu, kondisi sehatmu sebelum kondisi sakitmu, kecukupanmu sebelum kefakiranmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846)

Nabi mengawali wasiatnya dengan menyebut masa muda muda. Sebab ia adalah masa penting dalam kehidupan manusia. Manusia memulai perjalanan hidupnya di masa ini. Pun malaikat pencatat amal akan menggoreskan catatannya seseorang di masa muda ini (setelah akil baligh).

Ingatlah kelak di hari kiamat manusia dikumpulkan. Maka ditanyakan padanya empat hal besar, di antaranya masa muda. Rasulullah saw. bersabda,
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser telapak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ia ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia pergunakan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang apa yang telah ia amalkan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi no. 2416)
Jika hari itu telah tiba, lalu apa yang akan engkau katakan di hadapan Rabb semesta Alam? Bagaimana engkau mempertanggungjawabkan masa mudamu? Sudahkah engkau menggunakan masa mudamu dengan sebaik mungkin???

Kamis, 20 Juni 2019

Juni 20, 2019

Pahala Puasa 6 Hari Bulan Syawal

Pahala Puasa

Alhamdulillah puasa wajib di bulan Ramadhan akan usai. Kita akan segera merayakan hari kemenangan yaitu Idul Fitri 1440 Hijriyah. Selama sebulan penuh umat islam menahan haus dan lapar serta hawa nafsu. Dengan semua ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan disempurnakan dengan mensucikan diri melalui membayar zakat fitrah.
Setelah itu kita menghadapi bulan syawal, umat islam memperoleh penawaran yang sangat menguntungkan. Apakah itu?
Ya, kita mendapatkan pahala puasa 1 tahun dengan cara ‘mudah’.
Bagaimana caranya? cukup melaksanakan puasa 6 hari.
Ini nih rumusnya:
Puasa Ramadhan + Puasa Syawal = Puasa Satu Tahun 
Penjabaran rumus :
1 amalan = Allah gandakan 10x
Puasa Ramadhan
1 Bulan = 1 x 10 = 10 bulan
Puasa Syawal
6 hari = 6 x 10 = 60 hari = 2 bulan
 Totalnya
10 bulan + 2 bulan = 12 bulan (1 tahun)
Rumus ini berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits juga kok. Coba deh simak hadits dibawah ini :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim Kitabusshiyam)
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisalnya. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). Jadi seolah-olah jika kita melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh.
Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

  (مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا


“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][QS. Al-An’am : 160].”[HR. Ibnu Majah Kitabusshiyam]
Secara rasional, hitungan setahun ini berasal dari kebaikan yang dilakukan seorang hamba Allah. Apabila melakukan satu kebaikan maka akan dibalas sepuluh kebaikan yang semisal.
Subhanallah…
Lalu bagaimana tata cara melaksanakan puasa enam hari ini? Coba deh ikuti cara ini :
  1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
  2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fitri, namun tidak apa-apa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
  3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak apa-apa jika dilakukan tidak berurutan.
  4. Usahakan untuk membayar hutang puasa Ramadhan kita. Ingat ya, puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan puasa Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.
 Alhamdulillah dengan kita mengetahui dan mengikuti anjuran puasa Syawal selama enam hari, kita bisa mendapat pahala puasa selama satu tahun. Disamping itu kita juga mendapatkan hikmah lainnya yaitu : memperbaiki kecacatan dan kekurangan puasa kita di bulan Ramadhan, agar kita tidak lepas kontrol selepas bulan Ramadhan, dan tanda cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
 Semoga bermanfaat.
Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiro.

Sabtu, 18 Mei 2019

Mei 18, 2019

Sains Tentang Puasa dan Keutamaan Sahur


Gaya hidup masyarakat muslim modern yang senang mengkonsumsi berbagai jenis makanan menjadikan momen bulan Ramadhan waktu yang tepat untuk mengurangi asupan makanan dan menerapkan pola hidup sehat.

Selain menjadi salah satu rukun iman dalam islam, dari sisi sains puasa juga memiliki manfaat detoksifikasi bagi tubuh, bermanfaat untuk kecantikan, meningkatkan fungsi otak, mencegah ragam penyakit dan masih banyak lagi manfaat yang diperoleh bagi orang yang berpuasa.

Dalam berpuasa terbagi menjadi dua waktu utama untuk makan, yaitu waktu sahur dan berbuka. Sahur dan berbuka menjadi pengganti sarapan dan makan malam. Jika terpenuhi dengan baik, dua waktu ini dapat memberikan manfaat bagi tubuh untuk sukses menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Menurut seorang pakar nutrisi, Susie Burrell, dilansir dalam detikhealth, tubuh memiliki periode dalam mencerna makanan. Selain itu, tubuh juga punya waktu sendiri untuk istirahat.

Dalam artikel ini akan dibahas keutamaan sahur bagi orang yang berpuasa. Berikut ini adalah fakta ilmiah manfaat sahur bagi kesehatan dan kecantikan saat menjalankan ibadah puasa.

Sahur merupakan salah satu sunnah dalam berpuasa. Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik mengatakan, Rosullullah SAW bersabda: “Sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu ada barokah.”

Sedangkan hadis yang diriwayatkan Ibni Abbas mengatakan, Rosulullah SAW bersabda: “Minta tolonglah kalian dengan sahur untuk melaksanakan puasa di siang hari.” Hadis ini dimaksudkan sahur dapat menolong orang yang berpuasa, agar dapat menguatkan tubuh saat siang hari agar bisa terus beraktifitas.

Berpuasa bagi umat islam di zaman modern saat ini tidak menghalangi kita untuk melakukan kegiatan seperti biasanya, justru bulan Ramadhan kita dituntut untuk lebih giat dalam bekerja sebagai salah satu wujud ibadah serta meningkatkan ibadah lainnya.

Sejalan dengan hadis Rosulullah, sahur sebagai pengganti sarapan bagi orang yang berpuasa sangat penting. Sarapan sering disebut paling pentingnya waktu makan dalam sehari, karena memberikan rezeki dan energy (seperti, kalori) untuk melakukan kegiatan apapun nantinya (Spencer, 2017). Menurut Spencer (2017), penelitian terbaru menemukan, kita dianjurkan mengonsumsi sekitar 15-25% dari asupan energy harian untuk sarapan (misalnya: 300-500 kalori untuk wanita dan 375-625 kalori untuk pria).

Kemendikbud melansir, menurut hasil penelitian kebiasaan sarapan sebelum pergi sekolah berpengaruh pada fisik dan psikis anak. Hasil studi tersebut menyatakan bahwa anak-anak yang tidak sarapan sebelum ke sekolah memiliki masalah seperti sakit kepala, sakit perut, mudah lelah, mengantuk, gugup, mudah cemas, mudah tersinggung dan lesu. Hal tersebut menunjukkan pentingnya makan sahur sebagai pengganti sarapan bagi anak-anak dan remaja yang bersekolah, kuliah atau memulai aktifitas di pagi hari saat berpuasa.

Bisa kita bayangkan pentingnya sahur untuk mengawali kegiatan kita dalam sehari selama bulan Ramadan. Jika kita melewatkan sahur, kegiatan yang kita lakukan dalam sehari akan terasa lebih berat. Apalagi saat kita dalam keadaan berpuasa, tubuh akan kekurangan banyak cairan.

Bagi orang yang sedang diet, makan sahur sangat penting untuk mengurangi berat badan. Dalam jurnal yang mengevaluasi tentang efek puasa Ramadhan dan makan sahur pada parameter antropometrik, metabolisme dan endokrin menunjukkan, puasa ramadhan diamati memiliki efek positif pada pengukuran antropometrik seperti berat badan, BMI, massa lemak, dan lingkar pinggang, yang merupakan faktor risiko kardiovaskular.

Tetapi tidak ada efek positif yang serupa terlihat pada parameter endokrin dan metabolik. Efek negatif ini terlihat lebih jelas pada mereka yang berpuasa tanpa makan sahur (Metin,. Z, et al, 2018).
Jadi diet bukan salah satu alasan yang baik untuk meninggalkan makan sahur. Bahkan makan sahur membantu tubuh menjalankan sistem metabolisme dan endokrin sehingga diet menjadi berhasil. Tentunya dengan menu yang tepat dan tidak berlebihan.

Selain itu dengan makan sahur kita diajarkan untuk bangun lebih awal. Sebagian dari kita mungkin terkadang malas untuk bangun sahur, karena kita diharuskan bangun di sepertiga malam yang akhir. Waktu dimana manusia masuk dalam tahap tidur yang nyenyak.

Padahal Rosulullah SAW senang pada umatnya yang mengakhirkan makan sahur, seperti hadis yang diriwayatkan Anas dari Zaid bin Tsabit ketika makan sahur dan solat bersama Rosullullah SAW, lalu Anas menanyakan perkiraan antara makan sahur Nabi Muhammad SAW dan solatnya. Zaid berkata kira-kira seperti membaca lima puluh ayat (HR Tirmidzi, Kitabu Shoum).

Prof Hardinsyah, seorang pakar ahli gizi, dilansir dari detikhealth mengatakan dalam satu jam gula darah seseorang masih bisa meningkat dan ketika bangun tidur selama dua jam tapi belum sarapan, itu membuat penurunan gula darah yang drastis. Hal tersebut diartikan dalam dua jam setelah bangun tidur sebaiknya harus sudah sarapan atau dalam hal ini makan sahur, agar gula darah terjaga untuk memulai aktifitas.
Selain itu dalam kitab sunan At-Tirmidzi Rosulullah juga bersabda: “Perbedaan antara puasanya orang iman dan orang ahli kitab adalah makan sahur.” Jadi tidak ada alasan untuk sengaja meninggalkan sahur apalagi meninggalkan puasa.

Demikian fakta ilmiah tentang puasa dan keutamaan sahur. Selain banyak manfaatnya, sahur menjadi amalan sunah yang dikerjakan Rosullullah SAW, dan tentu saja berpahala. Semoga dalam bulan Ramadhan ini kita bisa menyempurnakan ibadah wajib dengan menambah banyak ibadah sunnah. Ayo kita raih 5 sukses bulan Ramadhan!

Sabtu, 04 Mei 2019

Mei 04, 2019

Lima Sukses Ramadhan


Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kemurahan dan keberkahan. Di bulan Ramadan, segala amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan segala amal kejelakan dilipatgandakan dosanya. Ini saatnya bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba mencari dan menabung pahala kebaikan sebanyak-banyaknya. Rosulalloh SAW bersabda dalam hadits qudsi yang artinya “ sesungguhnya Tuhan kalian mengatakan: setiap satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus dan berpuasa adalah amalan untukKu dan Aku akan membalasnya” (HR. At-Tirmidzi) sebentar lagi kita menjalankan puasa, yuk mantap kan lagi hatinya untuk bisa mensukseskan Ramadan di tahun ini, dengan 5 sukses Ramadan :

Yang pertama adalah Puasa, yaiyalah puasa kalau gak puasa berarti gak sukses dong kan emang tujuannya bulan Ramadan itu puasa. Iya bener puasa, tapi disini apa kalian tau makna puasa itu apa? Tau dongg berlatih menahan lapar, dahaga dan syahwat disiang hari. Eeett bukan Cuma itu aja lohhh makna puasa.

Terus apa lagi? Memang benar puasa itu berlatih menahan lapar, dahaga dan syahwat ketika siang hari tetapi puasa juga berlatih untuk mengendalikan emosi negatif, perkataan bohong dan kotor serta perbuatan tercela. Makna puasa menurut rosullalloh SAW tidaklah hanya menahan diri untuk tidak makan dan minum di siang hari, tetapi juga mengendalikan emosi negatif, perkataan bohong dan kotor.

Tidak ada artinya seseorang berpuasa jika harinya dipenuhi dengan menebar kebohongan, isu dan gosip, menggunjing dan menipu serta penuh dengan ucapan-ucapan tercela. Rosulalloh SAW bersabda yang artinya “ barang siapa yang berpuasa Ramadan lalu dia tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatan yag mengandung kebohongan, maka Alloh SWT tidak akan memberikan pahala atasnya, melainkan hanya perbuatannya meninggalkan makan dan minum” (HR. At-Tirmidzi) tuhh kebayang dong gimana jadinya kalau kita tidak bisa menahan itu semua,

seharian Cuma dapat menahan minum, makan saja dan pahalanya hilang. Yukk niatkan lagi hatinya apa makna puasa yang sebenarnya agar ibadah puasa sebulan penuh ini tidak akan sia-sia untuk kita jalankan malah akan mendapatkan hadiah indah kelak diakhirot karna amalan-amalan yang kita kerjakan selama bulan puasa ini.

Oke yang kedua adalah sholat tarwih, melaksanakan ibadah sholat sunnah tarwih sebulan penuh sesuai kemampuannya baik 11 rakaat maupun 23 rakaat, dll. Rosulalloh SAW bersabda “barang siapa menetapi ibadah (sholat tarwih) di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala, diampuni bagi orang apa-apa yang telah dahulu dari dosanya orang” (HR. Bukhori).

Sungguh besar pahala yang dijanjikan Alloh kepada kaum muslimin yang mampu menjalankan sholat tarwih dibulan Ramadan sehingga seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua untuk semangat mengerjakannya, meski kadang kondisi kita sedang kenyang setelah berbuka atau sibuk dengan aktifitas diluar rumah. Maka untuk mencapai sukses Ramadan kita bisa menjalankan sholat tarwih yang haruslah kita gapai dibulan Ramadan ini.

Ketiga sukses tadarus Al-Quran, mambaca/mengkaji Al-Quran sampai khattam minimal satu kali bagi mereka yang telah mampu membaca secara baik dan benar. karena nabi besar Muhammad SAW dalam bulan Ramadan beliau mengkhatamkan tadarus Al-Quran dari awal hingga 30 juz dan di dalam Al-Quran dijanjikan Alloh banyak sekali pahala dan kebaikan.

Rosullalloh bersabda “barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabulloh (Al-Quran) maka baginya mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan tersebut dilipat-gandakan menjadi sepuluh kalinya (HR. At-Tirmidzi)”. Ayookk tingkatkan lagi tadarus Al-Quran nya. Tentu saja kita ingin tergolong orang-orang yang mendapatkan pahala dan kebaikan sedemikian besarnya bukan? Maka meraih sukses tadarus Al-Quran mestinya menjadi target yang harus kita capai dibulan Ramadan ini

Ke empat sukses menjalankan ibadah i’tikaf (berdiam diri) di Masjid terutama di sepuluh malam yang akhir dibulan Ramadan dan berupaya sekuat tenaga agar mendapatkan pahala Lailatul Qodar. Alloh menyediakan satu malam yang lebih mulia dari seribu malam yaitu Lailatul Qodar. Beribadah dimalam Lailatul qodar, pahalanya lebih baik daripada pahala beribadah selama seribu bulan.

Yang terakhir sukses menunaikan zakat fitrah bagi seluruh kaum muslimin. Di dalam suatu riwayat dari Abdulloh bin Umar, dia berkata :”rosulalloh memerintahkan kepada kami untuk menyerahkan zakat fitrah sebelum orang melaksanakan sholat iedul fitri, dan rosulalloh mewajibkan zakat sebanyak satu so’ gandum atau kurma atau keju kepada laki-laki, wanita, anak kecil, orang tua, orang merdeka atau hamba sahaya dari orang-orang islam” (HR. Abu Dawud).

Sudah jelas bahwa Zakat fitrah itu hukumnya wajib bagi setiap orang muslimin. Ketika ada seorang bayi baru melahirkan satu jam sebelum melaksanakan sholat iedul fitri maka dia(bayi) harus menunaikan zakat fitrah tersebut. Maka dari itu dengan sukses menunaikan zakat fitrah, selain memenuhi kewajiban kita sesudah puasa Ramadan sekaligus membantu hamba Alloh yang memerlukan.

Sungguh besar pahala yang akan diperoleh jika lima sukses Ramadan berhasil kita dapatkan. Sebalikya, sungguh besar penyesalannya jika bulan Ramadan telah lewat dan lima sukses Ramadan tidak kita peroleh. Banyaknya pahala dan kebaikan yang dijanjikan Alloh di bulan Ramadan ini seharusnya merupakan tantangan bagi kita untuk meraihnya. Semoga kita tergolong sebagai orang yang meraih kemenangan pada 1 Syawal (kembali kepada fitrah sebagaiman waktu kita dilahirkan) melalui keberhasilan kita meraih lima sukses Ramadan. Selamat berpuasa serta berlomba menggapai lima sukses Ramadan dan semoga Alloh SWT memberikan ridhoNya kepada kita semua.

Aamiiiin....

Jumat, 08 Maret 2019

Maret 08, 2019

Jadi Mubaligh Atau Jadi Sarjana?

Selain ilmu agama dapat, ilmu dunia juga ada. Sekarang banyak sekali sekolah sambil mondok, bahkan yang sudah mahasiswa bisa mondok di pondok pesantren mahasiswa. Salah satunya di Pondok Pesantren Mahasiswa Khoirul Huda 3 ini. Sehingga tujuan kita bisa hidup sukses dunia akhirat akan bisa tercapai. Karena orang yang sudah punya ilmu agama pasti di tolong Allah dan dia juga punya ilmu dunia sehingga tidak akan bingung mencari pekerjaan, sudah banyak cerita seorang mubaligh sukses dengan pekerjaannya karena ketika bekerja dia bisa jujur amanah, sehingga di percaya bosnya untuk menghandle perusahaan. Inilah bukti nyata bahwa seorang mubalegh tidaklah hina/rendah tapi dengan kemampuan dunia di gabungkan dengan ilmu agama hasilnya bisa luar biasa.

Ketahuilah bahwa jadi mubaligh-mubalighot maka kita jadi sukses dunia akhirat karena
· Penyampai ilmu Quran Hadist kepada semua umat di seluruh dunia
· Menjadi ujung tombak dan pelurunya para ulama’ dalam menjaga kemurnian ilmu Quran Hadist
· Tetap mendapat aliran pahala sebab ilmunya yang bermanfaat untuk orang lain
· Ahli ilmu yang derajatnya sangat mulia di sisi Allah
· Pemberi mahkota pada orang tua dan syafaat di hari kiamat
· Pasti mendapat bermilyaran pertolongan Allah

Mondok = tidak membuat sekolah kita berantakan
Mondok = tidak membuat prestasi sekolah turun
Jadi Mubaligh – ghot = mudah mendapat pertolongan allah
Jadi Mubaligh – ghot = hidup di cukupi oleh allah
Jadi Mubaligh – ghot = doanya mustajab
Jadi Mubaligh – ghot =  hidup bahagia dunia akhirat

SUNGGUH SANGAT MULIANYA JADI MUBALIGH-MUBALIGHOT
SUNGGUH SANGAT BERUNTUNGNYA ORANG TUA YANG ANAK-ANAKNYA MENJADI MUBALIGH-MUBALIGHOT

Berikut ini bagi kalian yang  ingin kuliah sambil mondok tapi tetap berprestasi di kuliahannya :
1.     Buat jadwal belajar dan ngaji
2.     Belajar serius 100% ketika di sekolah/kuliah
3.     Berusaha paham akan pelajaran saat itu juga
4.     Duduk paling depan dan berhadapan dengan dosen
5.     Menghormati guru/dosen dan berusaha mendapatkan simpati positif darinya
6.     Pilih pekerjaan yang penting dan mendesak untuk dikerjakan terlebih dahulu
7.     Kerjakan tugas sekolah/kuliah sebisanya di pondok
8.     Berteman dengan teman sekolah/kuliah yang pintar
9.     Selalu tertib mengumpulkan tugas sekolah/kuliah walaupun belum selesai 100%
10.  Aktif bertanya di kelas walaupun kita sudah paham akan pelajaran itu
11.  Datang ke sekolah/kuliah tepat waktu
12.  Jangan banyak bergurau  dan tidur di kelas
13.  Jangan banyak begadang dan ngerumpi
14.  Jangan banyak ikut kegiatan-kegiatan di kampus yang banyak menyita waktu
15.  Jangan banyak nyontek dan mengandalkan hasil pekerjaan teman
16.  Manfaatkan waktu istirahat sebaik-baiknya

CANTOLANNYA …
SINAU MEMPENG, TIRAKAT BANTER

JIKA KAMU INGIN SUKSES DUNIA AKHIRAT

MAKA…

CARILAH ILMU DUNIA DAN AKHIRAT ITU

JANGAN PERNAH BERPIKIR

NILAI BAGUS / CUMLAUDE

ADALAH PENENTU KEBERHASILAN HIDUP KITA
INTI KEBERHASILAN HIDUP KITA DI DUNIA ADALAH ….
QODAR ALLAH dan MOTIVASI HIDUP KITA
JADI YANG PALING PENTING
PERCAYA TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH 100%
PERTOLONGAN ALLAH ITU BAGAIKAN CERMIN
JIKA KEPERCAYAAN KITA TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH MASIH SETENGAH-SETENGAH …
MAKA INSYAALLAH KITA AKAN MENDAPATKAN PERTOLONGAN YANG SETENGAH-TENGAH JUGA
MARI SAMA-SAMA KITA BELAJAR TERHADAP PERTOLONGAN ALLAH 100%
SUNGGUH SENANGNYA JADI MUBALIGH-GHOT + SARJANA
SUNGGUH SENANGNYA PUNYA ANAK JADI MUBALIGH-GHOT + SARJANA
AMIINNNN…